Tuesday, 1 March 2011

Pintar vs Beruntung

Hari ini guruku bicara tentang hal ini, dan aku ingin memaparkan apa pendapatku.
Pertama-tama, aku ingin bilang apapun yang tadi diucapkan oleh guruku, aku tetap memilih pintar. Karena berbagai hal, aku akan menjelaskannya.

Bagiku kepintaran adalah kunci berbagai hal. Meskipun keberuntungan juga bisa menjadi kunci tapi bagiku kepintaran tetap nomor satu. Aku tak peduli apapun yang guruku bilang mengenai keberuntungan, karena meskipun kita beruntung, belum tentu kita bisa menjadi pintar. Dan meskipun orang pintar tak selalu beruntung aku percaya orang yang beruntung karena pintar pasti memiliki kepuasan tersendiri daripada orang yang beruntung cuma-cuma. Karena untuk menjadi pintar membutuhkan usaha, dan orang yang berusaha akan merasa bangga meskipun terkadang hasilnya tak sesempurna yang diharapkan. Itu yang aku pilih, daripada beruntung bagai kejatuhan bulan permata tapi bodohnya tidak karuan.
Orang bilang untuk menjadi pintar membutuhkan uang. Memang, tapi jika kau bisa sekolah gratis dan kau bisa menjadi pintar luar biasa di sana, aku yakin pasti keberuntungan menghampirimu. Tergantung seberapa kerasnya kau berusaha. Orang bilang kau harus kaya, tapi jika kau bisa menjadi pintar dari awal, maka kau akan menjadi kaya karena pintar, bukan pintar karena kaya.
Menurutku, bukan keberuntungan yang membawa kesuksesan. Karena meski beruntung, itu akan berlangsung hanya sesaat karena keberuntungan bisa menjadi kesialan sewaktu-waktu. Bila kau pintar dan tiba-tiba menjadi bodoh, kau bisa belajar dan berusaha menjadi pintar kembali, tapi bila keberuntunganmu berubah menjadi kesialan, kau tidak bisa mempelajari cara menjadi beruntung. Kau tidak bisa mengubah kesialanmu kecuali dengan berdoa. Doa itu mujarab tapi apa kepuasan yang terima bila kau tak berusaha dengan tenaga dan pikiranmu sendiri? Sama seperti tidak ada artinya. Bila kau beruntung, kau akan senang, gembira bukan main, tapi di mana letak kepuasanmu? Puas hanya sesaat, itupun hanya karena yang kau ingini bisa tercapai. Tapi bila kau pintar, lalu kau berhasil, kau akan puas, puas selamanya, meski setelah itu kau jatuh. Karena kepuasanmu berasal dari usaha yang kau kerahkan, usahamu sendiri. Karena meski kau jatuh kau akan tetap merasa bangga atas usahamu. Aku yakin, aku percaya akan hal itu.
Orang bilang, bila kau ingin menjadi orang, kau harus kaya. Bila kau ingin bekerja, kau harus kaya dulu. Itu aneh. Karena bukankah kau bekerja agar menjadi kaya? Lalu apa point-nya bekerja bila kau sudah kaya? Untuk menambah kekayaan? Bisa jadi, tapi sebenarnya tujuan bekerja itu untuk memperoleh penghasilan. Kau memang harus punya modal, tapi bila kau lebih pintar, kau tak butuh embel-embel yang disebut uang itu. Kau tak perlu bingung mencari pekerjaan, karena aku yakin, aku percaya, pekerjaan itu yang akan mencarimu. Kau perlu berusaha, mengeluarkan pikiran, kau harus pintar. Itu sudah menjadi dasar yang cukup mengapa aku lebih memilih pintar daripada beruntung.
Orang beruntung pasti menang bila dibandingkan dengan orang pintar. Semua orang tahu itu. Tapi kepuasan yang dimiliki orang beruntung jauh lebih rendah daripada orang yang pintar. Mengapa kau bisa beruntung? Karena keberuntungan menghampirimu? Karena kau berdoa? Susah dianalisa. Tapi mengapa kau pintar? Karena kau berusaha, dan berusaha, berusaha, berusaha itu yang menjadi dasar kesuksesan.

Aku yakin, suatu hari, kau akan setuju. Meski tidak nanti, besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan, atau berpuluh-puluh tahun ke depan. Tapi aku yakin, kau akan terpaksa mengakui itu benar, karena kepuasan itu yang mendasari segalanya. Untuk apa kau beruntung, bila kau tidak bangga? Kau beruntung hanya sesaat, lalu bagaimana bila kau jatuh? Kau tak bisa mencari ilmu untuk menjadi beruntung. Tapi kau bisa mempelajari caranya menjadi pintar.

0 Komentar:

Post a Comment