Friday, 11 February 2011

Curhat Perasaan

Bagaimana perasaanmu bila kau disakiti? Jelas sakit-lah. Tidak ada yang disakiti malah senang. Itu konyol. Tapi rasanya sakit ini tak bisa dibendung, sakitnya benar-benar tak bisa ditahan.
   Yah, aku punya masalah. Dengan teman, yang orang seharusnya kuanggap teman, tapi menurutku dia hanya orang yang kebetulan saja berada dalam kelas yang sama denganku. Ya, lalu aku curhat ke BK. Dan tampaknya guru konselingku sama sekali tak menaruh perhatian. Aku benci itu. Dia hanya mengangguk-angguk, tersenyum, dan berkata semua baik-baik saja. Tapi masalahnya, ini tidak akan selesai dengan baik-baik saja! Dan guru konselingku sama sekali tak mengerti perasaanku. Rasanya aku semakin sakit ketika guru itu bilang ini persoalan biasa yang akan selesai dengan sendirinya, dan yang perlu aku lakukan hanya tersenyum pada semua orang seperti orang sinting, tapi aku SUDAH ramah pada semua orang, bahkan melebihi yang kumau. Tapi guru tak ada yang tahu masalah itu, dan tampaknya juga tak mau tahu. Kalau begitu kenapa menjadi guru konseling? Benar-benar tak masuk akal.
   Dan tampaknya teman-bukan-teman-ku itu menjadi semakin jijik padaku seakan aku seonggok kotoran anjing yang ditempatkan di bangku terdepan di kelas. Aku sakit. Tak ada yang tahu air mataku berusaha melewati dinding kokoh yang kupasang di mataku. Tak ada yang tahu, dan tak ada yang mau tahu. Aku tak melakukan apa-apa! Aku tak salah apa-apa ... Aku tidak tahu apa yang telah kuperbuat padanya sehingga dia menjadi kejam padaku. Semenjak aku LDK, padahal aku menghadiri LDK itu bukan urusannya, bukan haknya untuk ikut campur dan menilai, dan sama sekali bukan urusan yang bisa dia cium di hidungnya! Dia mungkin berpikir aku tak layak menjadi OSIS, tapi kenapa? Aku toh tidak minta, aku disuruh, dan biarpun dibayar aku tak mau mundur sebelum waktunya. Dia mungkin berpikir aku sombong, tapi bila aku sombong aku takkan sekalipun berpikir mengapa dia tak suka padaku. Bila aku sombong aku takkan bicara pada teman-temanku. Benar-benar tak masuk akal, dan guru konselingku sama sekali tak mau mendengarkan aku meratapi nasibku yang malangnya jauh melebihi malang. Dia malah berusaha menghentikanku sambil berkata semua akan baik-baik saja. Ingin rasanya menambahkan, "Ya, baik-baik saja bila aku MATI!!!" Ihhh ...
   Apa yang seharusnya aku lakukan? Aku tak ingin dibenci, dan tampaknya hanya dia yang perilakuknya membuatku sakit. Aku tak tahu, aku tak tahu apa-apa. Hanya satu yang kutahu. Aku ingin mati.
Titik.

Aku MATI ...

2 Komentar:

konudrakka said...

sekarang memang terasa sakit, tapi nanti di tahun-tahun mendatang, kau akan mengerti kenapa itu terasa sakit, dan di waktu itulah baru kau akan sadar, bahwa kau telah menjadi orang yang lebih kuat dan tegar daripada orang-orang 'biasa' lainnya.

semangat, dek :)

Fadhilah Fitri Primandari said...

Iya makasih

Post a Comment