Saturday, 26 February 2011

Kenyataan

Terkadang
Saat kenyataan muncul di hadapanku
Aku akan berpaling, menjauh
Karena terkadang
Kenyataan terlalu menyakitkan

Kenyataan selalu menghantuiku
Memenuhi seluruh rongga kepalaku
Membuatku frustasi, tak mampu berpikir lagi
Kenyataan selalu mengikutiku ke mana pun aku pergi
Seperti lalat, seperti nyamuk yang mengganggu

Aku tahu kenyataan itu nyata
Lebih nyata daripada apapun
Tapi terkadang
Memilih untuk terus berkhayal
Terasa paling baik untuk hatiku
Membiarkan segala yang menyakitkan namun benar
Lewat begitu saja
Hingga hati ini tak terlalu sakit, tak terlalu perih

Aku tahu kenyataan itu yang membangun hidup
Tapi terkadang
Membangun kehidupan sendiri dalam bayangan
Terasa paling benar, paling baik
Aku takkan perlu mengkhawatirkan apapun
Karena ini duniaku, duniaku

Aku tak mau melihat kenyataan
Terkadang kenyataan terlalu menyakitkan
Aku ingin membangun duniaku sendiri
Membatasinya dari segala kenyataan
Membuat semuanya tak nyata
Karena yang nyata itu menyakitkan

Wednesday, 23 February 2011

Dusta

Semua tampak seperti dusta
Ketika aku bilang aku bahagia
Semua tampak berbeda dari apa yang terjadi pada mulanya
Yang semula putih sekarang sehitam jelaga
Segala kebahagiaanku takkan tahan lama
Karena pasti esok hari aku harus membayarnya
Dengan kesedihan yang seperti siksa
Semua yang tampak seperti bunga
Esok akan seperti layu dimakan cuaca
Bagaimanapun aku memohon pada Yang Maha Kuasa
Hidupku akan terus seperti ini juga
Tapi aku ingin mencoba
Melawan takdir yang tampak sebebal baja
Hanya untuk sekali saja
Merasakan sulitnya melawan derita

Monday, 21 February 2011

Hanya Ingin Membaur

Aku tidak ingin berbeda
Tapi guru-guru menanggapku tak sama
Hanya karena sebuah kesempatan yang telah kuambil
Itu bukan salahku
Ataupun pilihanku
Tapi tampaknya mereka menganggapnya begitu
Oh Tuhan tolonglah aku
Aku hanya ingin membaur

Bila aku tak pernah mengambil kesempatan itu
Apakah aku akan diperlakukan seperti ini oleh para guru
Oh sungguh aku tak tahu
Terkadang aku berharap sesuatu akan terjadi
Seperti muncul bintang di siang hari
Aku sering berharap aku bisa mati
Karena terkadang ini tak mampu kuatasi
Sungguh bisakah mukjizat terjadi di sini
Untuk membantuku yang terpuruk sendiri

Mereka bilang aku beruntung
Tapi aku tidak menanggapnya begitu
Karena aku selalu dianggap kuman di ujung sepatu
Meski terkadang mereka yang memintaku untuk membantu
Mereka sama sekali tak tahu
Bahwa sebenarnya hatiku telah membatu

Bisakah mereka membiarkanku membaur
Aku tidak bermaksud sombong
Ataupun meremehkan yang lain
Tapi terkadang aku tak bisa mencegah tanganku
Mengulas lukisan di kertas
Aku hanya ingin membaur

Sunday, 20 February 2011

Hidup

Hidup seperti jalan yang tak tentu
Yang dulu tidak bisa kau buat baru
Kau terus berjalan ke depan
Mengalahkan apa yang bisa kau kalahkan
Dan menangkan semua yang bisa kau menangkan
Dan jangan pernah kau lewatkan segala kesempatan
Karena masa-masa itu takkan bisa kau kembalikan
Jadi jangan kau lewatkan

Hidup itu tak selamanya indah
Kau akan merasakan bagaimana bunga mawar merekah
Tapi akan merasakan bagaimana kristal bisa pecah
Dan menghilang tanpa bekas
Seperti kau membakar kertas

Bila kau terus berjalan
Dan kau melihat ke belakang
Kau akan melihat sejarah terukir di sana
Segala kenangan bersama Ayah Bunda
Yang penuh cinta dan bahagia
Oh bisakah kau kembali ke sana
Saat kau dan mereka sedang tertawa
Kembali pada saat kalian bercanda

Hidup selalu berubah
Seperti kuning menjadi merah
Dan bahagia menjadi amarah
Air menjadi darah
Gelap menjadi cerah
Tapi jangan kau biarkan perubahan itu
Merubah dirimu
Karena meskipun hidup berubah
Kau harus tetap berdiri di tempat yang sama
Seperti dulu

Saturday, 19 February 2011

Menjadi Diriku

Menjadi diriku seperti menjadi hantu
Kau lewat di mana-mana tak ada yang tahu
Kau seperti asap di balik batu
Kau pergi takkan ada yang melihatmu
Tapi jangan sampai kau buat kesalahan
Kau bisa mendapat berbagai siksaan
Sampai kau merasa kau tak pernah dilahirkan


Jangan sampai kau berharap menjadi diriku
Tahu tidak, aku dianggap kuman di ujung sepatu
Aku dianggap serangga yang bau
Cobalah kau jadi aku
Pasti kau rasanya ingin membeku
Karena kaudekati saja takkan ada yang mau ...


Menjadi aku sungguh menyakitkan
Layaknya aku telah mengalami kematian
Dan menerima banyak siksaan


Aku ingin menjerit keras-keras
Seakan aku telah disiram air panas
Ini sama sekali tidak patut ditertawakan
Aku bukanlah tokoh guyonan


Aku telah menggali liang kuburku sendiri
Aku telah bersiap-siap mati
Selamat tinggal kawanku yang baik hati
Jangan lupakan aku nanti
Dan bilang pada orang yang telah membuatku sakit hati
Dia akan kuhantui
Sampai dia pun pergi
Pergi dari dunia penuh siksa ini

Kau Sakiti Aku Lagi

Kau sakiti aku lagi
Seakan itu tak membuatku sakit hati
Kau tahu rasanya aku ingin sekali mati
Meninggalkanmu dengan dosamu sendiri
Yang telah membuatku tak mampu bangkit lagi

Kau pikir menyakiti itu menyenangkan
Padahal di sini aku yang merasakan
Betapa kejamnya kata-kata yang kau katakan
Seperti racun yang tak tersembuhkan


Bisakah kau berhenti melontarkan leluconmu
Yang sama sekali tidak lucu
Aku sama sekali tidak menganggapmu melucu
Aku menganggapmu membunuhku
Hanya dengan kata-katamu itu


Kau sakiti aku lagi
Kau telah mendorongku untuk mati
Kau akan kuhantui nanti
Sampai nafasmu itu berhenti
Dan aku akan tertawa melepas sakit hati
Yang telah kauberi sebelum aku meninggalkan dunia ini

Wednesday, 16 February 2011

Pembunuh

Bila kau ini pembunuh
Mengapa kau tak bilang dari awal
Kau takkan perlu menyamar
Sebagai guru yang sok sabar
Yang sebenarnya membuat hati kami memar
Kata-katamu bukan petunjuk
Tapi hanya duri yang menusuk
Membuat perasaan kami remuk

Kau pembunuh
Kau mencabik-cabik semangat kami
Kau menghancurkan nyali kami
Kau melukai perasaan kami
Dan kau pikir kami menyukai dirimu
Teruslah bermimpi, karena itu tak mungkin terjadi
Karena kau terus sakiti hati kami

Kau pembunuh
Dan kau menganggap dirimu peri
Sungguh memalukan

Friday, 11 February 2011

Curhat Perasaan

Bagaimana perasaanmu bila kau disakiti? Jelas sakit-lah. Tidak ada yang disakiti malah senang. Itu konyol. Tapi rasanya sakit ini tak bisa dibendung, sakitnya benar-benar tak bisa ditahan.
   Yah, aku punya masalah. Dengan teman, yang orang seharusnya kuanggap teman, tapi menurutku dia hanya orang yang kebetulan saja berada dalam kelas yang sama denganku. Ya, lalu aku curhat ke BK. Dan tampaknya guru konselingku sama sekali tak menaruh perhatian. Aku benci itu. Dia hanya mengangguk-angguk, tersenyum, dan berkata semua baik-baik saja. Tapi masalahnya, ini tidak akan selesai dengan baik-baik saja! Dan guru konselingku sama sekali tak mengerti perasaanku. Rasanya aku semakin sakit ketika guru itu bilang ini persoalan biasa yang akan selesai dengan sendirinya, dan yang perlu aku lakukan hanya tersenyum pada semua orang seperti orang sinting, tapi aku SUDAH ramah pada semua orang, bahkan melebihi yang kumau. Tapi guru tak ada yang tahu masalah itu, dan tampaknya juga tak mau tahu. Kalau begitu kenapa menjadi guru konseling? Benar-benar tak masuk akal.
   Dan tampaknya teman-bukan-teman-ku itu menjadi semakin jijik padaku seakan aku seonggok kotoran anjing yang ditempatkan di bangku terdepan di kelas. Aku sakit. Tak ada yang tahu air mataku berusaha melewati dinding kokoh yang kupasang di mataku. Tak ada yang tahu, dan tak ada yang mau tahu. Aku tak melakukan apa-apa! Aku tak salah apa-apa ... Aku tidak tahu apa yang telah kuperbuat padanya sehingga dia menjadi kejam padaku. Semenjak aku LDK, padahal aku menghadiri LDK itu bukan urusannya, bukan haknya untuk ikut campur dan menilai, dan sama sekali bukan urusan yang bisa dia cium di hidungnya! Dia mungkin berpikir aku tak layak menjadi OSIS, tapi kenapa? Aku toh tidak minta, aku disuruh, dan biarpun dibayar aku tak mau mundur sebelum waktunya. Dia mungkin berpikir aku sombong, tapi bila aku sombong aku takkan sekalipun berpikir mengapa dia tak suka padaku. Bila aku sombong aku takkan bicara pada teman-temanku. Benar-benar tak masuk akal, dan guru konselingku sama sekali tak mau mendengarkan aku meratapi nasibku yang malangnya jauh melebihi malang. Dia malah berusaha menghentikanku sambil berkata semua akan baik-baik saja. Ingin rasanya menambahkan, "Ya, baik-baik saja bila aku MATI!!!" Ihhh ...
   Apa yang seharusnya aku lakukan? Aku tak ingin dibenci, dan tampaknya hanya dia yang perilakuknya membuatku sakit. Aku tak tahu, aku tak tahu apa-apa. Hanya satu yang kutahu. Aku ingin mati.
Titik.

Aku MATI ...

Thursday, 10 February 2011

Aku Benci

Kau bilang kau guru
Tapi bagiku kau pembunuh
Kau pembunuh semangat muridmu
Kau membunuh hati kami
Kata-katamu bukan ilmu
Tapi pedang beracun yang buta
Kau tak tahu betapa bencinya kami padamu
Betapa jengkelnya kami pada dirimu


Kau selalu mengomeliku
Berkata sekolah bukanlah milikku
Tapi sebenarnya
Sekolah juga bukan milikmu
Kau tak punya hak berkata semaumu
Kau bilang aku harus menuruti kata guru
Tapi sebenarnya siapa sih guru
Hingga bisa menyuruh dengan siapa aku harus duduk
Atau menentukan metode-metode yang harus kuikuti
Dan lagipula
Sekolah bukan milik guru
Jadi kau tak punya hak apa-apa atas diriku
Sama denganku, yang tak punya hak melakukan yang kumau
Tapi bukan berarti kau bisa menguasaiku
Tahu tidak,
Aku benci dirimu

Tuesday, 8 February 2011

Perubahan

Semua cepat sekali berubah
Semua cepat sekali menghilang
Bagai abu ditelan angin
Begitu juga pertemanan kita
Begitu cepat menguap
Dan hilang tak berbekas
Seakan dunia tak ingin pertemanan kita meninggalkan sejarah


Sulit melupakan betapa eratnya kita dulu
Seperti kertas dan pena
Sangat sulit dipisahkan
Aku tak tahu bagaimana semua begitu cepat berubah
Begitu cepat menghilang
Sulit dan sakit sekali rasanya
Melihat jauhnya jarak antara kita sekarang
Seakan terpisahkan jurang kematian
Dunia seakan berkata tak ada yang bisa memperbaiki hubungan kita


Terkadang aku melihat ke belakang
Berharap segala kenangan masih terukir di jalan
Tapi tampaknya sejarah tak ingin menyimpannya

Saturday, 5 February 2011

Aku Takut

Aku takut
Aku takut pada kegelapan ?
Tidak
Aku takut pada kesepian ?
Tidak
Aku takut pada keadaan ?
Tidak
Aku takut pada diriku sendiri


Aku takut pada pikiranku
Aku takut pada semua yang kupikirkan
Aku takut pada diriku sendiri
Aku takut


Rasa takut membayangiku
Aku tak bisa menghilangkannya
Rasa takut menghantuiku
Aku tak bisa mengusirnya
Aku sangat takut, sangat takut !
Aku terperangkap dalam pikiranku sendiri
Aku terjatuh dalam lubang pikiranku sendiri
Dan aku tak bisa keluar, tak bisa keluar
Aku hanya bisa memanjat
Tapi tepi lubang tak pernah terlihat
Aku terperangkap di antara jeruji
Jeruji ketakutan
Aku takut, aku takut !
Tapi aku tak bisa menghilangkannya


Aku jatuh lebih dalam lagi
Semua semakin gelap, gelap
Aku terperangkap lebih jauh lagi
Aku terpuruk lebih dalam
Aku tak bisa keluar, aku tak bisa keluar !


Aku bisa mendengar bisikan di sekelilingku
Aku bisa mendengar apa yang mereka katakan
Mereka mengatakan apa yang aku pikirkan
Mereka mendesis-desis
Mereka mengatakan segalanya
Dan aku terjatuh lagi, lebih dalam lagi
Aku terperangkap, aku tak bisa keluar
Karena aku takut