Monday, 17 May 2010

Bagaimana Rasanya Amarah yang Ditahan

   Bagi yang belum pernah menahan marah, aku akan beritahu: rasanya sungguh menyakitkan. Rasanya dada ingin meledak dan kau harus merapatkan rahangmu supaya tidak keluar kata-kata yang tidak diinginkan. Marah bagiku sangat menyakitkan, karena hampir setiap hari aku merasakannya. Di sekolah. Sebenarnya sih aku jarang marah berlama-lama dan mengingat kesalahan orang, tapi kalau sakit hati, itu lain. Hampir setiap  hari aku sakit hati. Dan sungguh, kadang yang membuatku sakit hati sungguh keterlaluan dan rasanya ingin marah---tapi sulit. Salah satu langkah, salah kata, salah ekspresi, salah gerakan, maka aku yang akan menanggung segalanya. Dan itu membuatku MUAK. Sangat muak. Kadang aku tak tahu apa-apa, tahu-tahu dicegat dan kata-kata pedas dan menusuk dilontarkan padaku, dan hatiku rasanya ingin meledak. Aku jarang bisa menangis kalau diejek atau dihina; biasanya aku hanya diam dan membuka buku paling tebal yang aku bawa. Atau, menulis puisi. Sering kali ada yang melontarkan kata-kata kurang ajar dan menghina padaku, sambil begitu selalu saja ada yang melotot dan mengernyitkan hidung seakan aku sampah paling bau di dunia. Atau, mungkin memang iya. Tapi, tetap saja aku tak suka.
   Biasanya yang begitu orang-orang yang hampir setiap hari kujumpai. Rahasia sih, tapi begitulah. Rasanya selalu berat kalau aku memandang wajah mereka, karena sedikit-sedikit selalu saja ada yang berkomentar dengan kata-kata paling mengenaskan untuk hati seorang anak berumur 12 tahun.
   Kata-kata pedas mereka membuatku tak bisa bersosialisasi dan selalu menutup diri. Aku bahkan tak berani berpendapat gara-gara tajamnya kata-kata mereka!!!

0 Komentar:

Post a Comment