Friday, 18 December 2009

Kenangan Akan Bunda

Kutatap foto di dinding…
Kulihat aku dan Bunda sedang bercanda ria…
Kulihat kami penuh tawa… kami tersenyum . . .
Foto itu membawa begitu banyak kenangan akan Bunda tercinta…
Kenangan akan Bunda yang penuh cinta…

Aku menitikkan air mata…
Aku tersendat…
Aku menunduk, mengalihkan pandangan dari foto itu…
Foto itu membawaku kembali dalam kenangan-kenangan indah bersama Bunda…
Saat-saat kami hidup penuh cinta…
Tangisku semakin deras…

Dan sekarang…
Hal terpahit dalam hidupku…
Aku tak dapat melihat Bunda lagi…
Bunda telah pergi meninggalkanku…
‘Tuk selama-lamanya…
Beliau pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal kepadaku…
Beliau pergi… begitu saja…

Oh… andaikan aku tahu…
Andaikan aku tahu…
Aku pasti sudah melakukan lebih banyak hal untuk membahagiakan Bunda…
Aku pasti telah melakukan banyak hal untuk membantu Bunda…
Oh… betapa jahatnya aku…
Bunda telah mengisi banyak hal dalam hidupku…
Bunda telah melakukan banyak hal demi membahagiakanku…
Tetapi aku tak menyadarinya…
Aku membiarkan kasih sayang dan cinta Bunda lewat begitu saja…
Oh… betapa jahatnya diriku…
Aku tak merasakan betapa Bunda bersusah payah ‘tuk menyenangkan hatiku…
Betapa Bunda rela melakukan banyak hal…
Demi aku…
Bunda rela bekerja siang-malam hanya untukku…
Bunda rela melakukan apa saja demi aku…
Oh… aku begitu jahat…
Aku belum membahagiakan Bunda…
Selama ini aku tak pernah mengindahkan kata-kata Bunda…
Oh… aku anak durhaka…
Bunda rela kerja keras hanya untuk membahagiakanku…
Bunda begitu peduli padaku…
Bunda begitu sayang padaku…
Bunda begitu cinta kepadaku…
Bahkan Bunda rela mengorbankan nyawannya untukku…
Begitu besar cinta Bunda kepadaku…
Tetapi…
Oh, betapa durhakanya aku…
Betapa kejamnya aku…
Aku selalu lupa untuk memeluk Bunda setiap malam…
Aku selalu lupa untuk mencium Bunda…
Aku selalu lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada Bunda…
Oh… aku benar-benar jahat…

Bunda…
Maafkan aku, Bunda…
Maafkan aku…
Selama ini aku aku begitu jahat kepada Bunda…
Tak pernah memperhatikan Bunda…
Bunda…
Aku menyesal…
Maafkan aku…
Aku menyesal…




Digubah pada tanggal 17 Desember 2009
Oleh Fadhilah Fitri Primandari

0 Komentar:

Post a Comment