Friday, 30 October 2009

Kemarahan

Sepercik apa memercik…
Percikan demi percikan…
Sambaran demi sambaran…
Membakar… menghanguskan hatiku…

Dalam beberapa detik…
Hatiku telah menjelma menjadi abu…
Abu yang hitam legam…
Sehitam batu bara…

Hatiku telah hancur…
Dihancurkan oleh amarahku sendiri…
Hatiku telah musnah…
Aku tak lagi memiliki hati…

Akupun mulai gila…
Aku menari-nari…
Padahal sebenarnya aku tidak gembira…
Berlari-lari…
Padahal sebenarnya aku telah lelah…
Menjerit-jerit…
Padahal aku sebenarnya aku sekarat…
Mengelepar-gelepar…
Padahal sesungguhnya…..nyawaku telah melayang…

Dan…
Di sinilah aku… terbujur kaku…
Berwajah pucat…
Dan berbau busuk…
Aku sudah mati…
Tergeletak begitu saja…



Digubah pada tanggal 29 Oktober 2009
Oleh Fadhilah Fitri Primandari

My Quote

Hai Teman-teman!!!
Ini pertama kalinya lho... aku nyapa kalian di blog ini!!!^_^ Aku mau coba cerita tentang apa yang terjadi di sekolah.... tetapi ceritanya singkat banget....

Berita Hari Ini: Hampir semua temanku marah-marah 'n' tersinggung hari ini karna ada seorang anak yang mengejek 'n' mengolok-olok mereka. Teman-teman yang marah sampe' nangis.... aku jadi kasihan!!!!>,<

Wednesday, 28 October 2009

Kiamat

Langit mendung…
Badai melanda…
Debur ombak memecah…
Dan kemarahan alam pun meledak

Suara guruh menggelegar…
Angin kencang berhembus…
Dan tangis pun pecah…
Pertanda maut melanda…

Bumi mengguncang…
Daratan retak…
Pohon-pohon tumbang…
Pertanda telah lelah berdiri…

Batu-batu melempar diri sendiri…
Air mulai hidup…
Dan mayat-mayat pun menari…
Menandakan dunia mulai gila…

Langit telah hancur…
Awan-awan menghilang…
Kemudian Sang Surya jatuh…
Lalu hancur berantakan…
Mengakhiri kehidupan ini…

Semua gelap…
Semua kelam…
Kami seakan buta…
Tak ada suara…
Kami seakan tuli…

Kami diam…
Kami tak bergerak…
Kami telah musnah…
Kami bukan lagi manusia…
Kami telah membaur dengan para hantu…
Dan sosok-sosok yang terbujur kaku…
Kami adalah MAYAT…
Kami telah… MATI



Digubah pada tanggal 28 Oktober 2009
Oleh Fadhilah Fitri Primandari

Monday, 5 October 2009

Mayat

Mayat…
Kau pucat,
Kau diam… tak bergeming…
Kau terbujur kaku…


Mayat…
Tak punya nyawa…
Hanya badan yang kaku…
Dengan wajah pucat mengerikan…


Mayat…
Kau terbujur kaku…
Kau mati…
Tetapi mengapa kami takut melihatmu…(?)
Kau tak bisa apa-apa, kau bahkan tak bisa bergerak…
Tetapi mengapa kami semua… takut…(?)


Mayat,
Kau tak bisa bicara…
Kau tak bisa apa-apa…(!)
Apa yang telah kau lakukan pada kami…(?)
Apa…(?)
Sehingga kami semua gemetar melihatmu…
Sehingga kami semua merinding mendengar namamu…
Hingga kami seakan-akan terpaku… bila membayang akan dirimu…

Mayat…
Aku pasti akan menjadi sepertimu suatu hari nanti…
Aku akan memiliki wajah pucat…
Aku akan diam… aku akan terbujur kaku…
Seperti kau…
Aku akan kehilangan nyawa…
Aku akan dikubur…
Dan … jasadku akan menghilang…
Akan termakan waktu, termakan cuaca…
Aku akan menjadi tengkorak… tulang-belulang, yang rapuh bila disentuh…
Dan.. lama-lama… seluruhnya… semua yang tersisa, tulang… tengkorak…pun akan habis
Akan menghilang… tuk’ selama-lamanya…

Digubah pada tanggal 4 Oktober 2009
Oleh Fadhilah Fitri Primandari

Saturday, 3 October 2009

Gempa

Pada saat itu…
Bumi mengguncang…
Tanah bergetar…
Dan dunia terasa hancur…


Bukit-bukit runtuh…
Bangunan-bangunan roboh…
Dan rumah-rumah hancur…
Semua porak-poranda…
Menjadi satu…



Dan di balik puing-puing itu…
Beribu mayat berbaring…
Terbujur kaku…
Dengan luka di sekujur tubuh…
Mengenaskan…


Manusia-manusia menangis…
Melihat mayat-mayat itu…
Melihat puing-puing itu…
Nyaris tak ada yang tersisa…
Harta-benda… semua habis…


Bukalah mata-hati kalian…
Tidakkah hati kalian perih melihatnya…(?)
Berikan bantuan…
Kuatkan hati mereka…
Lihatlah…
Tak ada lagi yang tersisa…
Hanya doa yang terus menggema…


Digubah tanggal 3 Oktober 2009,
Oleh Fadhilah Fitri Primandari

Nasihat Untuk Kawan

Matahari masih bersinar, Kawan…
Sinarnya belum redup…
Dan langit masih membentang luas…
Berhiaskan kapas-kapas putih…


Kawanku, pohon-pohon masih berdiri…
Rumput-rumput masih bisa bergoyang…
Angin masih bisa bertiup…
Dan langit masih mencurahkan hujan…


Carilah emas, Kawanku…
Carilah…
Meskipun kau harus merangkak-rangkak…
Walaupun kau harus ke ujung dunia…
Carilah, wahai Kawanku…


Jangan engkau merasa emas itu sudah cukup…
Emas itu takkan habis…
Emas itu ada di mana-mana…
Hanya saja engkau tak menyadarinya…


Jangan lengah…
Jangan berhenti mencari emas itu…
Jangan berhenti…
Sampai sinar matahari meredup…